Sebuah Kesempatan

Bandara polonia sedang sepi hari itu. Hari minggu yang hampir berakhir sepertinya telah berhasil memaksa banyak orang untuk tetap berada di rumah, beristirahat sepuas-puasnya, sebelum akhirnya berkutat kembali dengan kejamnya kota Medan.

Aku sedang duduk di sebuah kursi yang terbuat dari batang besi mengkilap sambil memegang cangkir plastik berisi kopi yang telah dingin dengan tangan gemetar. Entah sudah berapa puluh kali aku memalingkan kepala ke kanan dan kiri, mencoba mencari tanda-tanda kedatangannya.

Tak lama kemudian, pelan-pelan kudapati dirinya berjalan mendekat sambil menunduk dan bersenandung pelan. Aku mendapati rambut ikalnya semakin panjang dan lebih mengkilap sekarang, sejak terakhir kali kami bertemu tepat delapan bln yang lalu di sebuah cafe bernuansa kelam di pinggir kota tebink Tinggi. Wajahnya yang cantik juga sekarang terlihat semakin cantik dengan tidak manusiawi. Iya, memang akan selalu ada alasan untuk bisa mengagumi fisiknya yang hampir sempurna.

Sampai di dekatku, tanpa mengatakan apa-apa, dia lalu duduk di spasi kosong yang ada di sebelahku. Jaket beludru panjang berwarna coklat yang dia kenakan, terjurai halus hingga menutupi sepasang kaki jenjangnya yang mulus hingga ke paha.

Aku lalu mengamatinya. Mengamati dirinya seolah-olah bocah kecil yang baru pertama kali melihat mainan mahal yang dia dapatkan dengan penuh kekaguman, dengan penuh kasih sayang yang teramat besar.

Kenapa kamu melihat seperti itu? tiba-tiba dia melirikku melalui ujung matanya.

Aku tidak menjawab, hanya tersenyum. Bersyukur.

Org-org berlalu lalang yang berada di depan kami dengan sangat cepat. Suaranya yang bising terdengar seperti orkes tukang besi yang memukul drum dengan asal-asalan, namun tetap terasa penuh harmoni. Dan entah bagaimana caranya, suara itu terdengar nyaman di telingaku yang cukup akrab dengan keheningan beberapa tahun ini.

Bagaimana kabar kmu? Aku membuka suara, memulai percakapan.

Ada tarikan nafas lumayan panjang sebelum dia menjawab, tumben kamu nanyain Kbr? Aku baik-baik aja.

Ayah tahu kamu datang menemuiku?

Tidak. Dia tidak harus tahu. Lagipula aku cuma sebentar.

Sebentar? Kamu mau ke mana lagi? Aku sudah menunggu tiga jam lebih di sini.

Perempuan itu lalu menatap wajahku untuk pertama kalinya sore itu, sejak kapan kamu mau peduli dengan apa yang aku lakukan? Lagipula, aku tidak pernah meminta kamu untuk menunggu.Dulu Bukanya Kmu Meminta Aku untuk Menunggu sampai selesai kuliah?

Lalu seketika ada semacam tamparan kuat dari tangan raksasa mabuk yang aku rasakan di dalam hati. Aku selalu peduli pada kamu. Selalu. Dan aku tahu kamu juga demikian, makanya kamu datang sekarang.

Jangan sok tahu. Jawabnya.

Aku selalu tahu.

Lalu ke mana aja kamu waktu dulu aku sedang butuh-butuhnya!? Ke mana?! Jawab! Lagi, emosi menguasai wajah cantik di hadapanku ini. Matanya pun terlihat mulai basah, seperti biasa, seperti tiap kali kami berbicara.

Aku tidak bisa menjawab pertanyaannya. Aku tahu, menjawab itu tidak akan membuatnya merasa lebih baik. Mungkin ini hukuman yang harus aku terima atas salah yang pernah aku perbuat di waktu sebelum ini.

Diam, diam, diam, diam dan diam! Selalu diam! Sampai kapan kamu mau diam seperti itu?! Teriaknya dengan penuh emosi.

Teriakannya kali ini mampu menarik perhatian sepasang abege yang sedang duduk berduaan tidak jauh dari kami. Aku tahu, saat ini mereka sedang menajamkan pendengaran dan mencoba menyimak diam-diam apa yang sedang kami bicarakan.

Kamu bertanya sampai kapan? Sampai kamu mau mengerti, kalau aku ini bernafas untukmu. Bertahan hidup demi kamu. Jadi kumohon tetaplah di sini, dan mulai menerimaku.

Tidak! Dia mulai terisak.
Aku tidak pernah memaksa kamu untuk melakukan apapun, aku hanya ingin kamu mengerti, dan mulai menerima keberadaanku lagi.

Sebuah Pesawat melintas cepat dari arah kota. Suara bising itu kembali terdengar. Kebisingan sesaat yang terasa lama dan memaksa aku dan dia untuk diam dan berpikir kembali tentang hitamnya waktu sebelum ini.

Kenapa kamu harus datang, setelah aku pikir kamu sudah pergi Atau Di dalam Penjara Lgi?

Karena selamanya kita tidak akan pernah bisa terpisahkan.

Nggak! Selama ini aku bisa tanpa kamu. Seharusnya setelah ini aku juga bisa tanpa keberadaan kamu. Aku dan Ayh bisa hidup tanpa kamu!

Tapi aku yang tidak bisa hidup tanpa kamu lagi.

Dia terdiam kembali.

Aku bernafas untukmu. Dan biar waktu yang memisahkan kita. Biarkan waktu yang melakukan itu untuk kita. Bukan kamu, dia, atau aku. Atau siapapun.

Dia masih diam.

Cobalah mengerti.. karena selamanya rasa ini takkan berhenti.

Aku lalu memeluknya erat. Dan berharap semoga ini bisa mencairkan semua kebekukan dan melunasi rindu yang sudah sangat besar di antara kami berdua. Dia pun menangis lebih dalam, dan membalas pelukanku dengan lebih erat.

Aku merasa kembali hidup.

Dan aku tahu kau juga merasakan hal yang sama di sana, di balik pilar-pilar raksasa penyangga langit-langit bangunan ini. Aku tahu kau sedang menangis karena dulu pernah memisahkan kami berdua. Aku tahu kau melakukan itu karena kesalahan besarku yang dulu, yang Menyakiti Mu.

Tapi aku juga tahu betapa bahagianya kau menyaksikan orang yang paling kau sayangi ini sedang Memelukmu dari sekian lama terpisah. Aku-suamimu, jika dulu -putri kecilmu hidup kini sudah secantik kamu.

image

Cerita pendek ini terinspirasi dari lagu Peterpan – cobalah Mengerti dan kisah nyata ku

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Hari Raya Idul FitriAgustus 8th, 2013
The big day is here.

Blog Stats

  • 284,984 hits

BlackBerrysHelp Community


sisBBclub Komunitas BlackBerry

Follow me on Twitter

Temukan Kami Di Facebook

%d blogger menyukai ini: